Showing posts with label my self. Show all posts
Showing posts with label my self. Show all posts

Tuesday, June 16, 2009

BURUNG DI LANGIT PUN TUHAN PELIHARA...

Bapak dan Ibu sanderson di depan rumah burung



"...Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Allah. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?..."

Ayat itu selalu terngiang-ngiang setiap kali aku melihat kawanan burung-burung liar yang sering kali mampir di halaman belakang rumah kami, apalagi kalau aku menyediakan sisa-sisa makanan atau pinggiran roti tawar buat mereka. Ingatan akan ayat itu sembari melihat kawanan burung yang asyik mematuk remah-remah makanan membuat hatiku tentram, damai dan mantab menyambut kepindahan kami ke New Zealand awal Agustus ini.

Aku ingat beberapa bulan yang lalu, ketika pertama kali Mark menyampaikan idenya untuk pindah ke New Zealand membuat aku seperti sambaran petir di siang hari panas... tak terduga dan sangat mengagetkan! Sekaligus juga menyampaikan alasan-alasannya yang masuk akal juga, yang tambah membuat hatiku jadi menciut tak karuan. Walau itu masih wacana kata suamiku, dan dia juga tetap minta pendapatku apakah aku bahagia atau tidak dengan ide itu katanya pula... tapi terus terang ide itu selalu membuat hatiku mudah gelisah di hari-hari berikutnya.

Walaupun suamiku tentu meminta pendapatku juga apakah aku setuju atau tidak, bahagia atau tidak. Tapi aku tahu, bahwa di dalam hatinya dia sangat suka tinggal di New Zealand dan dia memang lebih suka cuaca yang lebih hangat di sana daripada di Inggris. Pengertian tentang hal ini membuat aku semakin tak berdaya, ibarat kata seperti ada di persimpangan jalan, antara memenuhi perasaan egoisku dan mencoba mengerti perasaan suamiku serta ingin membuatnya bahagia...

Memang sebelum bertemu aku, dia sudah 4 tahun tinggal dan bekerja di New Zealand. Dia sangat menyukai pekerjaannya dan alam New Zealand. Dan alasan dia akhirnya balik ke Inggris memang demi aku... demi prosedural pernikahan kami, demi dokumen-dokumen nikah agar lebih mudah. Karna memang Mark bukan warga negara New Zealand, jadi persyaratan pernikahannya membutuhkan dokumen yang tidak praktis dan waktu yang dibutuhkan pun juga tidak singkat. Aku sangat mengerti hal ini, karna memang lain negara lain peraturan, dan yang jelas aturan-aturan itu sudah dibuat dan dikaji jauh sebelumnya. Tapi walaupun begitu, sebenarnya ada satu alasan yang membuat aku tidak mau menjalani harus ke New Zealand dulu pada waktu akan menikah... yaitu aturan yang mengharuskan kami memberikan bukti-bukti bahwa kami tinggal serumah dulu sebelum menikah selama kurang lebih 12 bulan!!! Olala...

Dan Mark tahu pasti bahwa aku tidak akan mau dan tidak akan bisa memenuhinya...
Singkat kata, akhirnya Mark kemudian memutuskan bahwa dia akan kembali ke Inggris saja dan meninggalkan New Zealand berikut pekerjaan yang sangat dicintainya itu... Dari situ aku melihat pengorbanannya cintanya dan kesungguhannya untuk menikahiku tanpa mengecewakan dan mempermalukanku. Dan pengorbanan cintanya ini juga yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan-pertimbanganku dalam memutuskan pendapatku akan rencana kepindahan ini.

Pikiran manusiawiku bergejolak, mungkin karna seolah-olah zona amanku terkoyakkan... Kekuatiran tentang hidup di negara orang, di mana kami berdua atau mungkin salah satu dari kami bukan warga negara, jelas-jelas menghantuiku. Bahkan penjelasan Mark tentang New Zealand yang Negara Persemakmurannya Inggris, yang katanya warga negara Inggris lebih dipermudah dalam mengurus apa pun tetap tidak menenangkan hatiku. Bahkan beberapa minggu aku jadi sering lebih suka diam dan tidak banyak cakap, pun juga jadi sering menangis tersedu-sedu dalam doa-doa pribadiku pada Tuhan tanpa sepengetahuan Mark tentu saja. Karna seperti dia tidak ingin membuatku bersedih, aku pun tidak ingin membuatnya bersedih...

Bahkan tanpa sepengetahuan Mark lagi, aku menyempatkan doa dan puasa siang hari. Aku seolah-olah mau tawar-menawar dengan Tuhan, aku seolah-olah ingin memperalat Tuhan agar meluluskan keinginanku supaya suamiku membatalkan rencana kepindahan kami ke New Zealand... Tapi dalam doa-doaku aku juga minta agar Tuhan melembutkan hati kami, supaya kami benar-benar dimampukan mengerti apakah rencana ini kehendak Tuhan atau bukan... Karna itu aku juga memohon agar Tuhan memberikan tanda-tanda kalau memang akhirnya ini semua kehendakNYA...

Aku ingat bahwa dalam keputus-asaanku dulu aku sempat 3x memohon tanda, dan Tuhan berikan semuanya... Betapa picik dan egoisnya diriku... serta betapa baik dan sabarnya Tuhan itu. Dan kalaupun akhirnya aku setuju 100% dengan rencana suamiku, itu bukan berarti aku kalah ataupun aku mengalah... karna memang seharusnya tidak ada istilah seperti itu dalam rumah tangga, yang ada hanyalah istilah "saling".
Aku memang sudah kerasan di Inggris dan lebih suka tinggal di Inggris, tapi kalau sampai akhirnya aku setuju ikut pindah ke New Zealand, karna aku tahu sebagai suami istri memang harus selalu hidup bersama. Dan aku juga percaya, jika kita berusaha menjadi istri yang baik dan taat pada suami, Tuhan akan memberkati kita dan keluarga kita...

Jadi ya, kegiatan menikmati pemandangan kawanan burung liar mematuk-matuk remah-remah roti di halaman belakang rumah kami adalah kegiatan baru yang mengasyikan dan menentramkan buatku. Seolah-olah pemandangan itu sekaligus tanda dari Tuhan juga yang meyakinkan diriku bahwa aku tidak boleh kuatir akan masa depan kami... karna Bapaku Yang Di Surga yang akan memelihara hidup kami...

Preston - England, on Our Wedding Anniversary...
Sunday, 14th June 2009

Link :

Monday, December 08, 2008

Aku Dulu Adalah Sampah!

S A M P A H...atau "uwuh" dalam Bahasa Jawa, atau "garbage" dalam Bahasa Inggris, yang berarti benda atau sesuatu yang sudah tidak dibutuhkan lagi dan dibuang.

Sekilas teringat dulu waktu aku masih kecil, orang tua memberitahu kami agar selalu membuang sampah pada tempatnya. Waktu di Taman Kanak-Kanak dan berlanjut di Sekolah Dasar pun, kami diajari untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, dan diterangkan juga apa akibat-akibatnya jika kita tidak membuang sampah pada tempatnya. Bahkan sampai sekarang pun, sepertinya kami masih selalu (harus) diingatkan tentang membuang sampah pada tempatnya, atau harus ditunjukkan dimana tempat untuk membuang sampah. Terbukti di Indonesia, dimana pun tempatnya, aku masih sering membaca tulisan "Buanglah sampah pada tempatnya", atau "Dilarang membuang sampah di sini". Ironis sekali bukan?! Dengan kata lain, sepertinya kita senang selalu diperlakukan sebagai anak kecil saja, yang selalu harus diingatkan, yang selalu harus ditunjukkan... Padahal kadang kita marah atau tersinggung jika ada orang lain yang memperlakukan kita layaknya anak kecil saja. Tapi seperti Hukum Sebab Akibat, pasti ada sebabnya bukan, mengapa orang masih selalu menulis kalimat "Buanglah sampah pada tempatnya", atau "Dilarang membuang sampah di sini"...

Bicara mengenai SAMPAH, di Inggris, khususnya yang ku tahu di Preston kota tempat kami tinggal, pemerintah setempat atau The City Council memiliki cara tersendiri dalam pengelolan sampahnya. Mereka mengajak masyarakat agar bekerja sama dalam menanggulangi masalah persampahan dengan cara mereka menyediakan 4 boks tempat sampah bagi tiap rumah, buku panduan dan jadwal pengambilan. Tiap boks berbeda warna dan isinya. Bahkan kalau dirasa masih kurang, mereka boleh telepon minta tambah boks lagi.
  • Boks-boks itu ada yang warna abu-abu (Grey Bin), isinya : untuk sampah umumnya (General refuse) dan sampah makanan (Food waste).
  • Yang warna coklat (Brown Bin), isinya : untuk sampah kebun (Garden waste); termasuk sampah daun, tanaman mati, sisa potong rumput, bunga-bunga layu, patahan dahan pohon dan ranting.
  • Sedang yang warna merah (Red Box), isinya : untuk sampah plastik atau Plastic bottles (termasuk botol bekas minuman, shampoo, susu, dll) dan kertas tebal atau Cardboard (termasuk kartu-kartu ucapan, karton bungkus makanan, kardus, dll).
  • Yang terakhir yang warna kuning (Yellow Box), isinya : untuk sampah kertas (termasuk koran, majalah, katalog, selebaran, dll), sampah "beling" (termasuk botol beling, toples, piring gelas beling, dll), sampah kaleng (termasuk kaleng minuman makanan, botol aerosol, dll) dan sampah tekstil (termasuk pakaian, dll).

Pengambilannya tiap minggu sekali sesuai jadwalnya. Kebetulan di area kami pengambilannya tiap Hari Selasa siang. Makanya tiap Hari Selasa kadang sebelum suamiku berangkat ke kantor, dia sering mengingatkan aku dengan menyebut "Bin Day". Jadi pagi-pagi kami sudah menyiapkan boks-nya di depan pintu gerbang rumah. Dan siangnya ada truk sampah yang mengambil, mengosongkan sampahnya dan mengembalikannya lagi. Jika Selasa minggu ini jadwal untuk "Grey Bin", maka Selasa minggu depan giliran untuk 3 boks sekaligus "Brown Bin", "Red Box" dan "Yellow Box".

Nantinya sampah-sampah itu akan dikumpulkan sesuai jenisnya dan di daur ulang. Hasil daur ulang sampah itu akan diproses lagi untuk menjadi bahan dasar bagi pembuatan barang-barang lain lagi. Dengar-dengar, hasil daur ulang besi dari daur ulang sampah (Recyclable things) bahkan diekspor ke beberapa negara di Asia, untuk dipakai sebagai bahan dasar produksi, agar menekan biaya pembuatan.
Dengan kata lain, tidak akan ada yang terbuang percuma dari sampah-sampah itu, walaupun sebelumnya sepertinya tidak berguna lagi, tapi setelah didaur ulang bisa menjadi sesuatu yang baru dan berguna.

Sering pada saat aku harus membuang sampah-sampah kami dan memasukkannya sesuai isi boks-boks itu, aku seperti diingatkan kembali akan Kasih Tuhan dalam hidupku. Ya...ibaratnya sampah, aku dulu adalah sampah...tidak berguna lagi bagi orang, kotor mungkin...tapi kemudian diangkat Tuhan...dan di daur ulang menjadi sesuatu yang baru...yang berguna bagi orang lain. Mungkin jika ada seseorang yang masih mengira dirinya adalah "sampah"...dibuang dan tak dianggap orang..., janganlah sedih dan jangan putus asa! Ada "Tangan Yang Agung" yang akan siap mengangkat kita dan mendaur ulang hidup kita menjadi baru... Siap didaur ulang?!...





















Link :


Monday, July 14, 2008

Til We Meet Again Pals!








Buat teman-teman di Krista Mitra :

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk bersama, ada waktu untuk berpisah. Bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya, itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian supaya manusia takut akan DIA.

Suka duka telah kita lalui bersama, namun ada waktu dimana manusia tidak mampu untuk berkata "tidak", oleh karena Allah. Namun dibalik semua itu ada pula terselip kenangan-kenangan manis. Biarlah semua kenangan manis itu tetap ada dalam hati kita masing-masing, menghapus segala duka yang pernah terjadi.

Tuhan yang menempatkan dimana kita harus berpijak, akan tetap terus memelihara pijakan kita, dimanapun kita ditempatkan. Tuhan memberkati kita semua. Sampai jumpa lagi teman....

Love, Ratih & Mark


Link :

Monday, June 30, 2008

(My Last) Wisuda Purna Studi Kelas XII





Hari Rabu, tanggal 17 Juni 2008 lalu, di Graha Santika Hotel tepatnya di Borobudur Hall Room diadakan Wisuda Purna Studi Kelas XII angkatan tahun 2007/2008. Setiap tahun mungkin saya menghadiri acara-acara seperti ini. Tapi yang membuat acara Wisuda lalu istimewa tak lain adalah karena acara Wisuda itu merupakan Wisuda Purna Studi Kelas XII yang terakhir saya hadiri selama saya di Krista Mitra. Juga karena di acara Wisuda itu saya dapat hadir bersama dengan Mark Sanderson - suami saya. Yahh, ibarat permen NANO-NANO, perasaan saya campur-aduk saat itu. Ada rasa bahagia karena bisa lebih mengenalkan Krista Mitra pada suami saya, ada rasa bangga karena murid-murid Kelas XII lulus 100%, tapi juga ada rasa sendu yang dalam karena sebentar lagi saya tidak akan bertemu lagi dengan murid-murid dan rekan-rekan kerja di Krista Mitra.

Tapi seperti bumi yang selalu harus berputar, demikian juga kehidupan yang sudah digariskan pada setiap insan manusia. Tak luput juga Murid-murid Kelas XII yang sudah lulus dan harus meninggalkan Krista Mitra untuk melanjutkan masa depan mereka. Juga saya harus resign dari Krista Mitra dan mengikuti suami tinggal di England.

Sayonara Kelas XII Angkatan Tahun 2007/2008! I am proud of you!!

Link :

Thursday, June 19, 2008

MIDODARENI



MIDODARENI, suatu ritual menjelang pernikahan yang selalu ada di pernikahan adat Jawa. Biasanya upacara MIDODARENI dilaksanakan pada malam menjelang pernikahan atau "Hari H" di rumah calon pengantin wanita. Orang Jawa dulu percaya bahwa di malam MIDODARENI ini semua bidadari (atau widodari, bahasa Jawa) di khayangan (atau langit, bahasa Jawa) turun memberi restu dan kecantikan pada calon pengantin wanita, supaya pada "Hari H" pengantin wanita akan tampak cantik jelita secantik bidadari-bidadari khayangan. Karena itulah istilah yang lebih populer adalah Malam Midodareni.

Tapi jaman sudah banyak berubah. Kini ritual MIDODARENI sudah banyak beralih fungsi dan arti menjadi lebih bersifat tradisi dan budaya. Demikian halnya dengan kami, umat Nasrani, yang lebih memaknai MIDODARENI dengan mengisinya dengan Kebaktian / Ibadah ucapan syukur kepada Tuhan untuk mendukung doa bagi kelancaran acara inti pernikahan besoknya. Seperti yang juga kami lakukan pada "Malam Midodareni" yang lalu, Jumat...13 Juni 2008.

Link :