Monday, July 13, 2009

Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya

Peribahasa di atas tidak asing lagi di telinga kita sebagai orang Indonesia, yang artinya : "Setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda, atau satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain".

Dalam tulisan saya kali ini bisa dikatakan seperti catatan perjalanan saja yang ingin saya bagikan kepada teman-teman di Indonesia. Bukan untuk perbandingan semata, tetapi sekedar ingin berbagi pelajaran positif dan pengalaman hidup di negeri orang, serta sekaligus ingin menjadi seperti peribahasa berikut ini juga : "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Yang artinya : Di manapun kita berada, kita harus menyesuaikan diri dan menghormati adat-istiadat yang berlaku di daerah tersebut".

BIS KOTA :

Shelter Bus Board :
Info kedatangan bus di tiap halte bis, jadi tahu bis mana yang datang dan ke mana jurusannya. Bis datang tiap 6 menit sekali dan ada jadwal komputerisasinya. Dan herannya hampir selalu tepat lho!!!








DOUBLE DECKER = Bis Tingkat ala UK.
Waktu di pintu masuk kita bilang ke sopir ke mana tujuan kita, trus langsung bayar dulu baru karcis keluar. Di UK, kita juga tidak bisa berhenti di sembarang tempat, harus di Halte Bis atau tempat yang ditetapkan.
Saya selalu senang menikmati keramah-tamahan yang terjalin di dalam bis. Setiap masuk dan akan membayar karcis, sopirnya hampir selalu menyapa kita. Kadang ada ada yang berkata, "Hi ye", atau "Hello", atau "Hi Love" kalau sopirnya ramah sekali.
Dalam bis, ada kursi-kursi khusus untuk orang-orang cacat (disabled), dan juga ruang khusus untuk ibu-ibu atau orang yang membawa kereta bayi. Biasanya cuma untuk 2 kereta bayi saja. Saya salut kepada kedisiplinan sopir dan ketaatan penduduk di sini, contohnya : kalau sudah terisi 2 kereta bayi, maka sang sopir tidak akan menaikkan penumpang yang membawa kereta bayi tersebut, dan penumpangnya juga akan mengerti.
Dan setiap penumpang yang akan turun kita harus membunyikan bel yang ada hampir di tiap tiang dalam bis. Kemudian pada saat penumpang turun mereka selalu mengucapkan terima kasih atau salam balik pada sopirnya, yang biasanya saya pun sangat menikmati momen ini. Karena bagi saya budaya ini sangat baik dan komunikatif, sampai-sampai saya hafal kata-kata apa yang sering diucapkan penumpang, "Thank you", atau "Have a nice day", atau "Thank's Love", atau kalau penumpangnya kaum muda mereka cuma bilang, "Cheers!".
Paling tidak, semua kata-kata itu sebagai ungkapan terima kasih mereka pada sang sopir, walau sebenarnya kalau dipikir-pikir setiap penumpang itu toh sudah membayar tiket, dan lagi pekerjaan mengantar penumpang sampai tujuan itukan sudah pekerjaan sopir tersebut ya... Tapi dari situlah, saya belajar pada mereka bagaimana budaya berterima kasih dan menghargai jasa orang lain sesederhana apapun harus tetap kita lakukan di manapun, kapanpun dan pada siapapun.

PENYEBRANG JALAN :

Ketika akan menyeberang jalan kita hendaknya menekan tombol dahulu di tempat penyeberangan jalan (Pedestrian Cross), dan tombol itu akan memberitahu kita kapan kita diperbolehkan menyeberang. Kadang ada jalan-jalan tertentu, biasanya bukan jalan besar atau bukan jalan utama karena yang ada jalur lambatnya; kalau ada tanda di jalan berupa garis hitam putih atau kita bilang zebra cross, di jalan yang ada tanda itu kapanpun kita menginjakkan kaki di tanda zebra cross itu maka mobil yang akan lewat akan berhenti.
Dalam hal ini ada pengalaman yang menggelikan ketika Mark pertama kali di Indonesia, tepatnya waktu kita di Jakarta dan akan menyeberang jalan di tempat penyeberangan jalan atau yang ada garis hitam putihnya, Mark spontan menggandeng tangan saya dan siap akan langsung menyeberang! Spontan saya langsung tegang sambil menyentakkan tangan dan mundur teratur, dan Mark sangat kaget sekali sembari menanyakan kenapa saya takut. Setelah saya menjelaskan segala sesuatunya yang biasa terjadi di Indonesia, spontan Mark tertawa karna dia pikir sebelumnya bahwa kalau ada jalan dengan tanda garis hitam putih itu kapanpun kaki kita sudah menginjakkan tanda itu mobil akan berhenti! Kini setiap kali di Indonesia dan akan menyeberang jalan Mark sangat lihai melambaikan tangannya memberi tanda pada pengendara kendaraan atau mobil agar berjalan pelan-pelan, sambil berkata, "Kyiri, kyiri, kyiri...", hahaha!

TANDA DILARANG PARKIR :

Garis kuning 2 jalur = dilarang berhenti atau parkir di sepanjang jalur itu!Kalau kita melihat di jalan ada tanda garis kuning dua jalur itu berarti kita dilarang berhenti atau parkir di sepanjang tanda itu. Dan herannya masyarakat di sini juga tidak kemudian mencuri-curi untuk berhenti atau parkir di sana, walau tidak ada polisi yang jaga lho!!






SPEED CAMERA (KAMERA BATAS KECEPATAN) :

Speed camera (Kamera Batas Kecepatan) ini adalah alat pendeteksi untuk mendata setiap kendaraan bermotor yang lewat apakah melanggar batas kecepatan yang ditetapkan di jalan tersebut atau tidak. Kebetulan batas kecepatan di jalan-jalan di selurah Great Britain (Inggris Raya) berbeda-beda menurut situasi jalannya, apakah jalan ramai dengan tikungan ataukah tidak. Yang jelas batas kecepatan di jalan TOL-nya (Motorway) adalah 70 mil/jam, dan batas kecepatan di dalam kota sekitar 30 mil/jam (1 mil = 1,6 kilometer). Kalau diketahui sebuah mobil melanggar batas kecepatan, maka hari berikutnya Kepolisian akan mengirimkan surat peringatan berikut bukti photo mobil itu ketika lewat di jalan tersebut! Kalau sudah sampai 3x berturut-turut maka akan segera dikirim surat ke pengadilan. Kalau sampai terjadi, bisa-bisa Kepolisian akan menyita SIM kita! Dan yang jelas lagi kita akan punya kriminal rekor di data pribadi kita!


Selain mendeteksi pengendara yang melanggar batas kecepatan di jalan, Speed Camera ini juga bisa mendeteksi mobil-mobil yang belum membayar pajak, atau tidak memenuhi MOT Test (Test Uji Kelayakan Mobil), atau bahkan mobil-mobil curian! Jangan heran, kalau tahu-tahu ada mobil polisi di belakang kita yang mengejar dan siap menangkap pengemudinya...


SHOULDER ROAD (BAHU JALAN) :

Sebenarnya Shoulder Road (Bahu Jalan) ini juga ada di negara kita ya... bentuknya tetap rata dan warnanya yang putih juga sama. Cuma perbedaan yang saya temukan adalah dari rasa yang ditimbulkannya ketika roda mobil atau kendaraan kita sudah menginjak di garis putih bahu jalan itu. Efek yang ditimbulkan adalah roda mobil kita akan berderit-derit dan menimbulkan goyangan-goyangan kecil seperti kita berjalan di atas jalan berbatu yang tidak rata! Ya, mungkin memang sengaja dibuat sedemikian rupa agar pengendara mobil yang mengantuk bisa langsung sadar dan bangun, mungkin...he he he.


LINE LITTER (PENYAPU JALANAN ala PRESTON) :

Seperti halnya di negeri kita bahwa tiap harinya ada saudara-saudara kita dari Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota yang dengan setia menyapu jalanan dan sudut kota. Di sinipun ada orang-orang yang memunguti sampah atau kotoran yang mungkin tercecer di jalanan, saya bilang memunguti, karna memang tidak seperti menyapu tapi cuma membawa keranjang plastik berikut alat penyepit yang agak panjang seperti gunting itu!
Tapi seminggu sekali akan ada "mobil vacuum cleaner", itu istilah saya saja untuk menyebut mobil dari dinas kebersihan kota yang biasanya "menyapu" sekaligus "menyedot" sampah atau kerikil atau pasir di jalanan, yang dimungkinkan bisa mengganggu kenyamanan dan keamanan di jalan.


PEJALAN KAKI DAN HEWAN PELIHARAAN MEREKA :

Ya memang tidak heran ya, kalau orang sudah menyanyangi hewan peliharaan itu kadang perlakuan mereka pada hewan-hewan itu bisa seperti perlakuan mereka pada sesama manusia, bahkan seperti memperlakukan anak mereka. Tak beda dengan masyarakat di sini yang memiliki hewan peliharaan juga.
Ada aturan tentang hewan peliharaan di sini yang ada hubungannya dengan kebersihan dan keindahan kota, yang mana menurut saya peraturan ini sangat menggelikan tapi sekaligus menimbulkan respek besar pada pelaku-pelakunya; yakni aturan bahwa setiap pemilik atau orang yang membawa hewan peliharaan harus memungut... (maaf) kotoran hewan peliharaannya, kalau sewaktu-waktu hewan-hewan itu mau buang kotoran di manapun dan kapan pun (ini terutama di tempat-tempat umum). Yeah, sama dengan membuang sampah sembarangan, jika hal ini tidak dilakukan maka pelakunya atau pemiliknya bisa diperkarakan, atau dikenai denda, atau kerja sosial.
Tak heran jika di supermarket-supermarket di bagian hewan peliharaan dijual juga plastik khusus untuk kotoran hewan peliharaan berikut kantong kedap udaranya! Phew... sampai segitunya ya...

Ada pengalaman saya pribadi pada waktu baru pertama kali datang di Preston, kira-kira hari-hari pertama ketika saya sendirian di rumah setelah suami saya berangkat kerja, saya melihat dari balik tirai di kamar tidur kami ada seseorang wanita separuh baya yang berdiri dekat pagar rumah kami dengan gerakan-gerakan yang menurut saya mencurigakan! Terus terang saya sempat bersembunyi sedikit di balik tirai sambil mengintip dan dengan hati berdebar-debar berpikir, "Apakah gerangan yang akan dilakukan wanita itu ya?!". Sambil celingukan kanan kiri dan sekali-kali melihat ke rumah kami sambil ditemani anjingnya, kebetulan memang kompleks rumah kami sangat sepi kalau siang hari, ternyata kemudian dia mengeluarkan kantong plastik gelap dan memungut (maaf) kotoran anjing di depan rumah saya, dan kemudian dengan gerakan yang sigap pula langsung memasukkannya di kantong kertas coklat, memanggil anjingnya dan langsung melenggang!! Oh my God... Waktu itu aku hanya terheran-heran saja, dan langsung menceritakan hal tersebut pada suamiku sore harinya. Dan ya, suami saya langsung menerangkan seperti yang sudah saya jelaskan tersebut di atas...

Link :

Wednesday, July 08, 2009

My First Election Day in Abroad

In front of Indonesian Embassy in London...my second home there!
In front of the Roosevelt Memorial at Grosvenor Square Park in London


Mari kita simak puisi berikut ini, yang dikutip dari Buku “Be the Best of Whatever You Are“ karya Douglas Malloch :
Kalau tak dapat menjadi cemara di puncak bukit,
jadilah perdu di lembah;
Tetapi jadilah perdu kecil yang terbaik di samping bukit.
Jadilah semak kalau jika engkau tak mampu menjadi pohon.

Kalau engkau tak dapat menjadi semak,
jadilah segerombol rumput;
Dan menjadikan jalan raya menjadi lebih meriah.
Kalau tidak mampu menjadi ikan besar jadilah ikan kecil;
Tetapi ikan kecil yang paling bergairah di danau.

Tidak mungkin semua menjadi kapten,
Kita harus mau menjadi awak kapal.
Ada sesuatu bagi kita semua,
Ada pekerjaan besar ada pula yang kecil;
Dan tugas pertama yang harus kita kerjakan adalah yang terdekat.

Kalau tidak mungkin menjadi jalan raya,
Maka jadilah jalan setapak;
Kalau tidak mungkin menjadi matahari jadilah sebuah bintang;
Bukan ukuran yang menentukan anda menang atau kalah.
Tetapi jadilah yang terbaik apa pun peran anda.

Ya, hari ini adalah pemilihan umum calon presiden di Indonesia. Hari di mana Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air berpesta menggunakan hak pilihnya. Tapi di sinipun, tentunya juga Saudara-saudaraku yang hidup di Negeri orang di manapun mereka berada, pasti mereka juga tetap bisa menggunakan Hak Pilihnya; baik lewat memilih langsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat ataupun lewat pos (seperti saya). Puji Tuhan... Hak Pilih kita masih diakui Negara...

Selamat bagi siapapun calon yang akan memenangkan Pemilu kali ini, dan jangan berkecil hati bagi calon-calon yang kalah. Bukankah masih banyak cara untuk membangun dan memajukan bangsa kita. Apapun yang kita kerjakan, kerjakanlah itu dengan sebaik-baiknya dan niscaya Tuhan akan memberkati setiap niat baik kita...

My first election day in abroad, Wednesday, July 8th, 2009
Preston, Lancashire, England



Link :

Tuesday, June 16, 2009

BURUNG DI LANGIT PUN TUHAN PELIHARA...

Bapak dan Ibu sanderson di depan rumah burung



"...Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Allah. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?..."

Ayat itu selalu terngiang-ngiang setiap kali aku melihat kawanan burung-burung liar yang sering kali mampir di halaman belakang rumah kami, apalagi kalau aku menyediakan sisa-sisa makanan atau pinggiran roti tawar buat mereka. Ingatan akan ayat itu sembari melihat kawanan burung yang asyik mematuk remah-remah makanan membuat hatiku tentram, damai dan mantab menyambut kepindahan kami ke New Zealand awal Agustus ini.

Aku ingat beberapa bulan yang lalu, ketika pertama kali Mark menyampaikan idenya untuk pindah ke New Zealand membuat aku seperti sambaran petir di siang hari panas... tak terduga dan sangat mengagetkan! Sekaligus juga menyampaikan alasan-alasannya yang masuk akal juga, yang tambah membuat hatiku jadi menciut tak karuan. Walau itu masih wacana kata suamiku, dan dia juga tetap minta pendapatku apakah aku bahagia atau tidak dengan ide itu katanya pula... tapi terus terang ide itu selalu membuat hatiku mudah gelisah di hari-hari berikutnya.

Walaupun suamiku tentu meminta pendapatku juga apakah aku setuju atau tidak, bahagia atau tidak. Tapi aku tahu, bahwa di dalam hatinya dia sangat suka tinggal di New Zealand dan dia memang lebih suka cuaca yang lebih hangat di sana daripada di Inggris. Pengertian tentang hal ini membuat aku semakin tak berdaya, ibarat kata seperti ada di persimpangan jalan, antara memenuhi perasaan egoisku dan mencoba mengerti perasaan suamiku serta ingin membuatnya bahagia...

Memang sebelum bertemu aku, dia sudah 4 tahun tinggal dan bekerja di New Zealand. Dia sangat menyukai pekerjaannya dan alam New Zealand. Dan alasan dia akhirnya balik ke Inggris memang demi aku... demi prosedural pernikahan kami, demi dokumen-dokumen nikah agar lebih mudah. Karna memang Mark bukan warga negara New Zealand, jadi persyaratan pernikahannya membutuhkan dokumen yang tidak praktis dan waktu yang dibutuhkan pun juga tidak singkat. Aku sangat mengerti hal ini, karna memang lain negara lain peraturan, dan yang jelas aturan-aturan itu sudah dibuat dan dikaji jauh sebelumnya. Tapi walaupun begitu, sebenarnya ada satu alasan yang membuat aku tidak mau menjalani harus ke New Zealand dulu pada waktu akan menikah... yaitu aturan yang mengharuskan kami memberikan bukti-bukti bahwa kami tinggal serumah dulu sebelum menikah selama kurang lebih 12 bulan!!! Olala...

Dan Mark tahu pasti bahwa aku tidak akan mau dan tidak akan bisa memenuhinya...
Singkat kata, akhirnya Mark kemudian memutuskan bahwa dia akan kembali ke Inggris saja dan meninggalkan New Zealand berikut pekerjaan yang sangat dicintainya itu... Dari situ aku melihat pengorbanannya cintanya dan kesungguhannya untuk menikahiku tanpa mengecewakan dan mempermalukanku. Dan pengorbanan cintanya ini juga yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan-pertimbanganku dalam memutuskan pendapatku akan rencana kepindahan ini.

Pikiran manusiawiku bergejolak, mungkin karna seolah-olah zona amanku terkoyakkan... Kekuatiran tentang hidup di negara orang, di mana kami berdua atau mungkin salah satu dari kami bukan warga negara, jelas-jelas menghantuiku. Bahkan penjelasan Mark tentang New Zealand yang Negara Persemakmurannya Inggris, yang katanya warga negara Inggris lebih dipermudah dalam mengurus apa pun tetap tidak menenangkan hatiku. Bahkan beberapa minggu aku jadi sering lebih suka diam dan tidak banyak cakap, pun juga jadi sering menangis tersedu-sedu dalam doa-doa pribadiku pada Tuhan tanpa sepengetahuan Mark tentu saja. Karna seperti dia tidak ingin membuatku bersedih, aku pun tidak ingin membuatnya bersedih...

Bahkan tanpa sepengetahuan Mark lagi, aku menyempatkan doa dan puasa siang hari. Aku seolah-olah mau tawar-menawar dengan Tuhan, aku seolah-olah ingin memperalat Tuhan agar meluluskan keinginanku supaya suamiku membatalkan rencana kepindahan kami ke New Zealand... Tapi dalam doa-doaku aku juga minta agar Tuhan melembutkan hati kami, supaya kami benar-benar dimampukan mengerti apakah rencana ini kehendak Tuhan atau bukan... Karna itu aku juga memohon agar Tuhan memberikan tanda-tanda kalau memang akhirnya ini semua kehendakNYA...

Aku ingat bahwa dalam keputus-asaanku dulu aku sempat 3x memohon tanda, dan Tuhan berikan semuanya... Betapa picik dan egoisnya diriku... serta betapa baik dan sabarnya Tuhan itu. Dan kalaupun akhirnya aku setuju 100% dengan rencana suamiku, itu bukan berarti aku kalah ataupun aku mengalah... karna memang seharusnya tidak ada istilah seperti itu dalam rumah tangga, yang ada hanyalah istilah "saling".
Aku memang sudah kerasan di Inggris dan lebih suka tinggal di Inggris, tapi kalau sampai akhirnya aku setuju ikut pindah ke New Zealand, karna aku tahu sebagai suami istri memang harus selalu hidup bersama. Dan aku juga percaya, jika kita berusaha menjadi istri yang baik dan taat pada suami, Tuhan akan memberkati kita dan keluarga kita...

Jadi ya, kegiatan menikmati pemandangan kawanan burung liar mematuk-matuk remah-remah roti di halaman belakang rumah kami adalah kegiatan baru yang mengasyikan dan menentramkan buatku. Seolah-olah pemandangan itu sekaligus tanda dari Tuhan juga yang meyakinkan diriku bahwa aku tidak boleh kuatir akan masa depan kami... karna Bapaku Yang Di Surga yang akan memelihara hidup kami...

Preston - England, on Our Wedding Anniversary...
Sunday, 14th June 2009

Link :